Biografi Imam Al-Bukhori

SAM_1248 Judul           : Biografi Intelektual Imam Al-Bukhori

Penulis         : Mukhlis Rahmanto,Lc

Penerbit      : Pustaka Al-Kautsar

Tebal buku : xvi + 230 halaman

Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Imam Bukhori dari kelahiran hingga wafatnya, juga tentang deskripsi karya-karya beliau, termasuk kitabnya  yang  fenomenal ; “Al-Jami Al-Musnad Al-Shohih Al-Mukhtasar min Umuur Rosulillah Shallallohu ‘alaihi wa salam wa Sunanihi wa Ayyamihi”  atau lebih dikenal dengan “Shohih Al-Bukhori”. Beliau bernama lengkap “Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirohbin Bardzibah bin Bardzibah Al-Ju’fi”. Dilahirkan di Bukhoro* pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 ). Ayahnya, Syaikh Ismail terkenal dengan panggilan Abu Hasan adalah seorang ulama hadits yang masyhur di Bukhoro, pernah menjadi murid Imam Malik juga salah satu sahabat dari Hammad bin Ziyad dan Ibnu Mubarok (tabi’in masyhur & diterima riwayatnya di kalangan ulama hadits). Melihat pertemanan ayahnya ini, kita bisa melihat bahwa Al-Bukhori dibesarkan di sebuah lingkungan keluarga yang religius & dipenuhi semangat keilmuan. Bahkan Ibnu Hibban turut mencantumkan biografi Syaikh Ismail dalam kitabnya Ats-Tsiqot.

Buku ini sangat disarankan untuk dibaca oleh mereka yang sedang bertholabul ilmi. Di dalamnya diceritakan tentang semangat & kesungguhan Imam Bukhori mencari ilmu yang mengharuskannya melakukan rihlah yang panjang dan penuh rintangan ke berbagai negeri. Perjalanan pertama Al-Bukhori ke luar Bukhoro adalah saat beliau diajak oleh ibu & sudaranya menunaikan haji pada tahun 210 H. Saat itu, usia beliau 16tahun dan telah menghafal kitab-kitab karangan Ibnu Mubarok & Waki, sekaligus menguasai tema-tema yang sering diperselisihkan oleh ahli mantik (logika). Setelah musim haji usai, beliau ditinggalkan oleh ibu & saudaranya. Beliau lebih memilih untuk menetap di Mekah, salah satu pusat keilmuan Islam tempat dimana para ulama berkumpul. Dari sinilah rihlahnya dimulai, sekitar seratus negeri beliau sambangi. dari Mekah, kemudian ke Madinah, Bashroh, Kuffah, Baghdad, Syam,Damaskus, Hims, Yaman , Mesir hingga Aljazair. Sedang rihlah  ke kota-kota di sekitar wilayah Khurasan seperti Muru, Balkh, Hirrah, Naisabur, Samarkand & Tashkent  telah beliau kelilingi sejak  lama sebelum pengembaraannya ke luar Bukhoro.

Beliau belajar kepada sekitar 1080 orang guru yang kesemuanya adalah para ulama & pakar hadits yang sebagian besarnya dari kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Imam Bukhori juga selektif & berhati-hati ketika akan mengambil riwayat dari seorang guru yang beliau temui.  Beliau akan melihat perilaku keseharian gurunya tersebut. Sebab tanda seorang yang berilmu adalah mengamalkan ilmu yang ia punya & bersifat tawadhu’ (rendah hati). Salah satu selektifitas yang dilakukan oleh Imam Bukhori terhadap guru-gurunya adalah beliau berprinsip tidak akan pernah mengambil riwayat dari guru/syaikh yang tidak mengakui & menetapkan bahwa iman seorang manusia adalah yazid wa yanqush (naik turundalam sisi akidah mereka. Iman seseorang akan mengalami fluktuasi (naik turun) menurut pendapat jumhur ulama Ahlusunnah wal jama’ah. Berkebalikan dengan kalangan Khawarij yang menganggap bahwa orang yang melakukan dosa besar (murtakib al-kabiroh) telah kafir & keluar dari agama.

Imam Bukhori,dengan keluasan serat kecerdasannya menjadi sumber air & cahaya ilmu pengetahuan yang dicari & dibutuhkan khalayak manusia. Baik dari kalangan awam maupun ulama, terutama para pencari ilmu. Sehingga orang-orang pun berbondong-bondong untuk mengambil manfaat darinya, bahkan beberapa guru Al-Bukhori sendiri pun malah berguru kepadanya setelah melihat kualitas hadits serta kecerdasan beliau. Kedatangan para guru & ulama semasanya ke majlis sang imam menunjukkan bahwa masing-masing ulama tersebut senantiasa dalam keadaan muru’ah (saling rendah hati), tidak berhenti mencari ilmu walaupun orang menganggapnya sudah berilmu & banyak mengajar manusia lainnya. Sebab, diatas orang yang berilmu pasti ada orang yang lebih berilmu. Di atas semuanya itu masih ada Alloh SWT,  Sang Pemilik Ilmu. Dengan suasana keilmuan yang demikian, niscaya jalur periwayatan hadits-hadits  Nabi akan semakin terjaga, semakin luas tersebar & tentu akan terjadi penyaringan periwayatan hadits-hadits palsu / yang riwayatnya lemah.

Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah : Shalih bin Muhammad/Juzrah, Muslim bin Hajjaj pemilik Shohih Muslim”, AbuBakar bin Ishak bin Khuzaimah An-Naisaburi penulis “Shohih Ibnu Khuzaimah”, Abu Abdurrahman An-Nasa’i pemilik “Sunan An-Nasai”, Abu Isa At-Tirmidzi  pengarang “Sunan At-Tirmidzi”, dll.

Banyak cerita berkaitan dengan Al-Bukhori sebagai guru yang baik  memberi nasihat kepada murid-muridnya. Salah satunya yang dikisahkan oleh Al-Walid bin Ibrahim Al-Bukhori, seorang murid Al-Bukhori yang menjadi qadhi (hakim) di wilayah Rayy (salah satu kota di Iran sekarang) ;

” Saat umurku menginjak dewasa,semangatku semakin menggelora dalam usaha mencari ilmu, termasuk ilmu hadits. Segera kulangkahkan kakiku menuju majelis Imam Al-Bukhori yang terkenal saat itu”. Setelah kunyatakan niatku, ia berkata :

“Wahai anakku, jangan engkau memasuki wilayah keilmuan (hadits ini) tanpa mengetahui garis-garis besar & batas-batasnya. Seseorang tidak akan menjadi seorang ahli hadits (muhadits) kecuali mengetahui dan menulis dalam lembaran yang dimilikinya delapan perkara yang terkumpul seperti beberapa baris syair dalam empat bait.”

“Wahai Imam, segera terangkan kepadaku apa sajakah perkara itu?”

“Engkau harus mengetahui hadits-hadits Rosululloh, para sahabat & tingkatannya, kehidupan para tabi’in, kehidupan riwayat sejarah hidup para ulama, sekaligus silsilah keluarga, nama-nama panggilan (kuniyah), serta tempat kelahiran mereka. Mengetahui masalah-masalah yang menjadi perselisihan (ikhtilaf) di antara mereka seperti hukum imam membacabasmalah ketika sholat jama’ah. Mengetahui kategori hadits-hadits yang tergolong mursal atau musnad. Membedakan mauquf dan maqtu’.Bagaimana masa muda perawi hadits tersebut. Bagaimana sikap mereka ketika diberi kekayaan lalu ketika dicabut oleh Alloh dan diganti dengan kemiskinan. Suasana kampung halaman (buldan) perawi tersebut. Bagaimana pararawi tersebut menulis dan mempunyai menuskrip dalam lembaran kulit, menulisnya di bebatuan atau dedaunan hingga ia memindahkan manuskrip tersebut ke dalam lembaran-lembaran kertas. Siapa saja rawi yang berada di atasnya atau darimana ia metriwayatkan. Juga siapa saja yang meriwayatkan darinya. Apakah ada dua nama yang sama dengannya dalam satu masa? Apakah ayahnya menulis dan meriwayatkan hadits? Apakah ia mmengambil riwayat serta mendapati manuskrip naskah dari ayahnya tersebut?”

“Juga lihat, apakah ketika ia menulis, meriwayatkan dan menyebarkan hadits Rosululloh SAW benar-benar diniatkan untuk mencari keridhoan Alloh? Terakhir, apakah ia mengamalkan hadits-hadits Rosululloh yang ia riwayatkan?”

“Namun, apa yang kuutarakan di atas belum terasa cukup. Engkau harus melengkapinya dengan hal-hal lainnya. Berusahalah mengais rizqi yang halal tentu dengan usahamu sendiri. Kau harus menguasai tulis-menulis dan Bahasa Arab dengan segala seluk-beluk ilmunya. Badanmu harus selalu sehat dengan cara kau harus selalu menjaganya, harus terus semangat, selalu punya keinginan dan cita-cita tinggi (mencari ilmu), dan juga harus kontinyu/terus-menerus. Itu semua tidak lain hidyah serta rahmat dari Alloh, maka selalu berdo’alah agar Dia selalu menganugerahkannya kepadamu.”

“Selanjutnya, ada 4 hal yang kau harus sabar di dalamnya,yaitu; keluarga, anak, harta, dan (rindu) kampung halaman. Juga 4 hal lain yang harus kau sabar dan jauhi,yaitu; mencela musuh, mencaci teman, mengejek dan mengatakan pada orang “kamu bodoh”, dan mendengki para ulama. Jika kau benar-benar mampu menahan terhadap beberapa hal di atas, niscaya engkau mendapati 4 kebaikan. Pertama, lezatnya qona’ah (merasa selalu berkecukupan). Kedua, tegaknya keyakinan dalam pribadimu. Ketiga, nikmatnya tholabul’ilmi (mecari ilmu). Keempat, kehidupan abadi (di akhirat) sesuai dengan firman Alloh SWT : “Barangsiapa yang mengerjakan amal sholih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baikdan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yanglebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl:79)

“Itulah nikmat Alloh yang diberikan kepadamu di dunia. Sedang di akhirat, engkau juga akan mendapatkan 4 hal. Pertama,syafaat dari baginda Rosul. Kedua,tempat berlindung yang langsung berada di bawah arsyi (singgasana-NYA). Ketiga, engkau akan meminum dari telaga Nabi. Keempat,  engkau akan berada dan bersama dengan para Nabi di tingkatan Surga yang paling tinggi. Demikian wahai anakku, telah kuajarkan beberapa hal yang akan sangat bermanfaat bagimu yang itupun kuperoleh dan kusimpulkan dari para guru terdahulu. Maka segeralah mengerjakannya, sedikit demi sedikit.”

Al-Walid segera berfikir terhadap beberapa hal yang disampaikan Sang Imam.Ia pun merasa berat dan mengeluh dengan banyaknya syarat tersebut. Ketika Al-Bukhori mengetahui keluhan muridnya, sang Imam pun berkata :

“Jika kamu merasa tidak akan mampu melaksanakan hal-hal tersebut, perdalam dan pelajarilah saja ilmu fiqih. Engkau bisa belajar otodidak di rumahmu tanpa membutuhkan rihlah (perjalanan) yang melelahkan dengan melintasi berbagai wilayah dan kota, juga menyebrangi laut. Sebab rihlah ke berbagai penjuru negeri dengan berbagai resiko yang dihadapinya adalah ciri hkhas para ulama hadits.”

Semenjak Imam Bukhori memulai rihlah pencarian haditsnya, ia telah terbiasa memberikan fatwa sebuah persoalan. Sepulangnya dari mengembara ilmu, beliau menetap di kampung halamannya untuk mengajar & memberi fatwa. Beliau tidak menyangka  di kampung halamnnya akan ada banyak orang yang menyambut kedatangannya dengan sangat hangat. Hinga amir  (penguasa) Bukhoro saat itu, Khalid bin Ahmad Al-Dhulali, mengutus seseorang yang membawa beberapa dinar uang untuk diberikan kepada Imam Al-Bukhori dengan maksud agar beliau mau mengajarkan kitab “Aj-Jami Ash-Shohih” dan “Tarikh Al-Kabir” di komplek istananya dan khusus mengajarkan kepada putra sang penguasa. Namun, sang Imam menolak dengan halus dan mengatakan pada Sang utusan ;

“Wahai utusan Amir,katakan pada tuanmu ; aku tidak akan menghinakan ilmu dan sekali-kali tidak akan membawanya ke depan pintu istana. Jika sultanmu menginginkan ilmu itu, maka suruhlah ia mendatangi masjid dimana aku mengajarkan pada khalayak umum atau suruhlah ia pergi ke rumahku. Jika Sultanmu merasa kecewa dengan jawabanku ini lalu melarangku memberikan ceramah dan mengadakan suatu majlis ilmu atau ia sengaja akan mengusirku,aku tidak berkeberatan. Semoga ini bisa menjadi alasanku di hadapan Alloh pada hari kiamat nanti,bahwa aku tidak akan pernah menyembunyikan dan pelit untk memberikan dan menyebarkan ilmu yang kumiliki”.

Hal ini membuktikan bahwa Al-Bukhori tidak pernah dekat dengan penguasa politik/kekuasaan. Ia tidak ingin merendahkan ilmu di depan penguasa untuk sekedar menerima beberapa keping dirham.

***

Kehidupan dunia bagi seorang muslim adalah perantara & bekal menuju kehidupan akhirat yang kekal dan abadi.  Hal ini bukan berarti seorang muslim akan meninggalkan segala macam bentuk kehidupan dunianya dengan hanya berkonsentrasi pada ibadah ritual saja. Maka, pada suatu hari Nabi SAW mengkritik salah seorang sahabatnya yang sepanjang harinya hanya beribadah & puasa saja. Nabi SAW mengajarkan,bahwa ia juga beristri, berpuasa tapi juga berbuka, berdagang di pasar,juga berperang. Meski Nabi SAW sudah dijamin Surga oleh Alloh SWT, namun itulah yang beliau contohkan.

Begitupun Al-Bukhori, disamping beribadah, mencari & mengajarkan ilmu, sebagaimana ayahnya, beliau juga berdagang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bentuk dagang yang beliau warisi dan teruskan dari ayahnya adalah sistem mudhorobah**. Dengan bisnis semacam ini, Al-Bukhori mempunyai banyak waktu untuk memenuhi dahaga ilmu & perjalannya mencari hadits Nabi SAW. Hasil bisnisnya tersebut beliau sedekahkan kepada fakir miskin, sesama penuntut ilmu, para guru yang membutuhkan atau membebaskan beberapa budak dari tuannya. Harta baginya adalah perantara menuju kebaikan.

Dengan kesibukan berdagang tersebut, terkadang beliau tidak hadir sehari dalam sebuah mejlis ilmu. Kadang beliau terlihat di Kufffah, lain hari beliau sudah di Basrah. Suatu sore lainnya beliau terlihat duduk di dekat mimbar dan makam Nabi SAW untuk menulis kumpulan haditsnya. Lusa berikutnya beliau sudah berada di Khurasan. Kehabisan bekal pun tidak menjadi masalah  hingga terkadang beliau memakan rumput-rumputan sebagaimana keadaan para Sahabat Nabi sewaktu perang Khabat***. Terkadang, beliau juga ikut bekerjakasar bersama budak-budak mengangkat pasir & batu bata. Dalam rihlah tholabul ilmi, beliau juga harus menyusuri padang pasir yang panas, menunggang kuda atau unta. Tidak peduli musim panas atau dingin.

Al-Bukhori juga seorang muslim yang mencintai kebersihan. Pernah suatu ketika beliau menemukan sebuah rambut janggut yang terlepas dari empunya ketika sedang berada di masjid menjalankan shalat. Segera beliau ambil rambut jenggot tersebut, lalu dikempit di lengannya. Setelah berada di luarmasjid, beliaupun membuangnya.

Kehati-hatiannya (wara’), membawanya agar janagn sampai dalam interaksi kesehariannya menyakiti orang lain. Beliau pernah berkata;

“Sejak aku mengetahui bahwa ghibah itu haram, aku tidak pernah sekalipun membicarakan orang lain”.

Salah satu keistimewaan Imam Al-Bukhori yang lain adalah sifatnya yang tidak mengenal fanatisme (ta’ashub) pada seseorang atau golongan tertentu. Hal ini terbukti ketika beliau menyusun kitab “Shohih Al-Bukhori”. Kehati-hatian serta ketelitian dalam menyaring hadits shohih dari sumbernya beliau lakukan setelah berdo’a memohon petunjuk kepada Alloh SWT dan menunaikan shalat sunnah 2 rokaat untuk setiap hadits yang dituliskan. Tidak sekalipun beliau dipengaruhi oleh bias (ta’ayus) terhadap pribadi/kedudukan seseorang.

Sikap lain yang menunjukkan kemuliaan akhlaknya adalah ketika beliau menghadapi orang-orang yang senatiasa membantahnya. Beliau senantiasa memberikan penjelasan yang lengkap. Jika orang yang dihadapinya masih membantah dan tidak membenarkan, beliau hanya berkata ; ” Hanya inilah yang aku ketahui dan aku tidak mengetahui hadits yang anda sebutkan”. Sesuai sunnah Rosululloh SAW, beliau juga membiasakan melatih dirinya untuk menguasai keahlian memanah, berburu, menunggang kuda dan berenang. Kebiasaan lain adalah ketika Bulan Ramadhan tiba. Di malam hari, beliau mengajak shabat-sahabatnya untuk shalat berjamaah di masjid dan mengkhatamkan Qur’an setiap 3 hari sekali. Beliau mengetahui bahwa Ramadhan adalah bulan dimana Alloh SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Rosulullloh SAW. Bulan ini juga menjadi ajang Malaikat Jibril untuk mengecek dan memperbaiki bacaan Qur’an Rosululloh SAW. Dua hal inilah yang beliau jadikan pemicu cinta dan rindunya pada Ramadhan dengan cara banyak membaca dan menelaah Al-Qur’an.

Beliau juga membiasakan diri shalat di waktu sahur, 13 rokaat termasuk witir didalamnya. Dari kebiasan-kebiasaan beliau, kita bisa menyimpulkan bahwa semua itu menunujkkan betapa hebatnya manajemen hidup Imam Bukhori.Semua kesibukan itu membuat Imam Bukhori harus bisa membagi waktunya sehari-hari. Bagaimana waktu sehari terbagi untuk ibadah, menerima tamu/murid yang datang, berbisnis, rihlah mencari ilmu, lalu mengurus dan memenuhi kebutuhan pribadinya. Manajemen seperti inilah yang selayaknya dijalani oleh setiap muslim/muslimah. Kunci kesuksesan para pendahulu kita terletak pada manejemen hidup ini. Bahkan, Alloh SWT banyak bersumpah dengan menggunakan “waktu” pada berbagai ayat dalam Al-Qur’an. Mudah-mudahan kita semua bisa mengambil hikmah…^_^

 

NB :

*Bukhoro sebagai satu kota besar di wilayah Khurasan menjadi tercatat & dikenal sejarah karena pernah menjadi ibu kota dari dinasti Samaniah (874-999M). Secara geografis terletak di dataran rendah Transoxania (Kaukasus / Asia Tengah sekarang) dan bisa dicapai dengan perjalanan selama  2 hari dari arah Sungai Jehun Irak. Kota-kota di sekelilingnya adalah Bikandi, Samarkand, Maru & Khawarizm. Kota/negeri tersebut terkenal sebagai negeri-negeri di belakang Sungai Eufrat (bilad ma wara’ An0Nahar). Sekarang Bukhoro termasuk salah satu kota penting di Republik Uzbekistan, Asia Tengah.

**Mudhorobah : Sistem bagi hasil yang jauh dari riba. Bentuknya adalah akad dari 2 orang atau lebih. Satu pihak sebagai pemilik modal & pihak lainnya akan menjalankan produksi modal tersebut. Keuntungan akan dibagi sesuai kesepakatan. Sedang apabila rugi, maka akan ditanggung bersama-sama.

***Khabat atau perang Saif Al-Bahr adalah perang dimana satu kompi pasukan utusan Rosululloh SAW ke daerah Pantai Bahrain yang dipimpin oleh Sahabat Imroh Abi Ubaidah bin Jarah yang karena begitu panjangnya perjalanan yang ditempuh, mereka pun kehabisan bekal & akhirnya terpaksa memakan dedaunan pohon yang tumbuh di sepanjang jalan. (Shohih Al-Bukhori no.4255 Bab Ghazwah Saif Al-Bahr)

Hikmah hari ini ….: “Belajar dari Kang Asdin”

"Book signing after event >> efek  sampingnya jadi penulis/trainer,....." ^_^Asep Wahidin, “Kang Asdin”, begitulah namanya biasa disebut, lahir 10 Februari 1990. Mau tak mau, suka tak suka, aku harus angkat topi pada adik yang satu ini. Usianya baru 22 th-an, tapi prestasinya sudah luar biasa. Buku “Insan Muda Sukses Paripurna” yang ditulisnya, melalui training-training yang diselenggrarakan kini sudah menyebar mulai dari Aceh hingga Papua. Jam terbang mengisi trainingnya pun lumayan padat. Pekan kemarin di Surabaya & Sumedang, hari ini di Batam, pekan depan di Semarang & Jakarta.

Setelah lulus dari SMK 1 Cimahi, Kang Asdin merantau ke P.Batam dan bekerja di perusahaan tempatku bekerja saat ini. Selain bekerja, ia juga menyempatkan diri untuk nyantri di Pondok Yanbu’ul Qur’an, aktiv di MTA (ta’lim PT, kalau ngga salah dulu sebagai pengurus inti di Div. Pendidikan&Pengkaderan/PSDM), juga mulai merintis bisnis server pulsa yang mengharuskannya bekerja ekstra. Menyebar brosur, berkeliling dormitory di kawasan Muka Kuning, dari mulai Blok.P, Blok.Q, Blok.R, Blok.N, dll. Bisa dibayangkan, jam kerja wajib di PT saja sudah memakan waktu hingga 12 jam dalam sehari, belum lagi waktu yang digunakan untuk aktivitas-aktivitas yang lainnya.. Sebagaimana yang dituturkan Kang Asdin : “Dulu, sepulang kerja jam 7 malam, saya sempatkan diri untuk berkeliling dormitory menyebar brosur door to door sampai jam 10 atau jam 11 malam. Bahkan pernah juga baru pulang jam 12 malam”. Ya,.. Begitulah kalau sudah punya tekad, tak pernah mengenal kata lelah atau bosan, hidup jadi terarah  untuk mencapai cita-cita/tujuan..

Singkat cerita, di tahun 2010, Kang Asdin memutuskan untuk tidak memperpanjang masa kerja di Batam. Ia pulang ke Bandung untuk mulai merealisasikan impian-impiannya… 4 Impian besar yang ia tulis saat itu :

1. Menjadi Da’i Muda/Trainer/Motivator Nasional

2. Menjadi Penulis Buku Best Seller

3. Menjadi Entrepreneur Muda

4. Membangun Pondok Pesantren..

Dan kini, di waktu yang relatif singkat, di tahun 2012,… impian-impianya satu demi satu mulai terwujud.. Training Insan Muda Sukses Paripurnanya sudah diselenggarakan di berbagai tempat di Indonesia. Mulai dari Bandung, Jakarta, Padang, Aceh, Batam, Surabya, Madura, Makasar, dsb.. Alumnus peserta trainingnya sudah mencapai 40.000-an. Bukunya pun sudah 4 kali cetak ulang.. Mimpinya menjadi entrepreneur muda alhamdulillah sedang diwujudkan (saat ini sedang mengelola 3 unit bisnis & insyaAlloh segera menyusul bisnis-bisnis berikutnya).. Tentang mimpinya membangun pondok pesantren, insyaAlloh sedang dalam tahap pencapaian.. Sekedar sharing, alhamdulillah kang Asdin sudah berhasil membangun  Masjid Roudhotul Jannah yang berlokasi di depan rumahnya, juga mengelola madrasah yang baru saja di launching bulan Ramadhan kemarin…

Hmm…. pertanyaannya, apa rahasia Kang Asdin bisa mencapai impian-impiannya dalam waktu yang singkat??

Ini sebagian kiat-kiat yang beliau bagikan saat mengisi “Character Building & Leadership Training” di Graha Pena Lt.6  yang digagas CMS (Centre for Madani Studies) Batam :

# SUKSES itu memiliki POLA/KARAKTER >> Memiliki Visi Hidup/Impian/Dream >> Menggali Potensi Terbaik >>   Bermanfaat untuk lingkungan.

# Berawal dari MINDSET >> menjadi PERKATAAN >> menjadi PERBUATAN >> menjadi KEBIASAAN >> menjadi KARAKTER >> menjadi NASIB (Buat yang pernah baca The 7 Habits-nya Stephen R.Covey pasti ngga asing dengan statement ini)..

# RUMUS LEADERSHIP >> C3O2 >> Commitment, Consistent, Continue, Optimis, Optimal

>> Comitment : Hilangkan kata “TAPI…..”, Hilangkan kata ….”JIKA”… Contoh: “Saya ingin sukses,tapi saya kan….”   atau : Saya bisa Sukses jika saya……” (Sesuai dengan salah satu kiat sukses di The Magic of Thinking Big-nya David J.Swartz >> No Excuse, Hilangkan Dalih/Alibi/Alasan.)

>> Continue : Berkelanjutan, Tuntas, Bedanya orang Sukses dan Orang Gagal >> Orang Sukses melanjutkan usahanya hingga tuntas, Orang gagal hanya memulai, memulai, dan terus memulai…. (jadi keingetan Pa Iwan Setiawan, salah satu inspiratorku, bahwa: “Pemenang sejati bukan dikenal atas apa yang berhasil ia mulai, tapi Pemenang Sejati dikenal atas apa yang berhasil ia selesaikan…”)

>> OPTIMAL : Miliki nilai tambah, berikan Level energi 100%, Bekerja di atas standar orang rata-rata..

>> OPTIMIS : Berdo’a, Bersyukur, Tawakkal…

# Menyusun TARGET?? WHY??

  1. Sebagai Petunjuk Arah (simulasinya seperti orang yang naik taksi tapi ngga tau tujuannya kemana??)
  2. Memberikan nilai pekerjaan
  3. Memberikan Kekuatan
  4. Menentukan Prioritas

Kiat selanjutnya…… lebih detail silahkan baca & Ikuti trainingnya…

Semoga bermanfaat…….^_^