Biografi Imam Al-Bukhori

SAM_1248 Judul           : Biografi Intelektual Imam Al-Bukhori

Penulis         : Mukhlis Rahmanto,Lc

Penerbit      : Pustaka Al-Kautsar

Tebal buku : xvi + 230 halaman

Buku ini mengisahkan perjalanan hidup Imam Bukhori dari kelahiran hingga wafatnya, juga tentang deskripsi karya-karya beliau, termasuk kitabnya  yang  fenomenal ; “Al-Jami Al-Musnad Al-Shohih Al-Mukhtasar min Umuur Rosulillah Shallallohu ‘alaihi wa salam wa Sunanihi wa Ayyamihi”  atau lebih dikenal dengan “Shohih Al-Bukhori”. Beliau bernama lengkap “Abu Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirohbin Bardzibah bin Bardzibah Al-Ju’fi”. Dilahirkan di Bukhoro* pada 13 Syawal 194 H (21 Juli 810 ). Ayahnya, Syaikh Ismail terkenal dengan panggilan Abu Hasan adalah seorang ulama hadits yang masyhur di Bukhoro, pernah menjadi murid Imam Malik juga salah satu sahabat dari Hammad bin Ziyad dan Ibnu Mubarok (tabi’in masyhur & diterima riwayatnya di kalangan ulama hadits). Melihat pertemanan ayahnya ini, kita bisa melihat bahwa Al-Bukhori dibesarkan di sebuah lingkungan keluarga yang religius & dipenuhi semangat keilmuan. Bahkan Ibnu Hibban turut mencantumkan biografi Syaikh Ismail dalam kitabnya Ats-Tsiqot.

Buku ini sangat disarankan untuk dibaca oleh mereka yang sedang bertholabul ilmi. Di dalamnya diceritakan tentang semangat & kesungguhan Imam Bukhori mencari ilmu yang mengharuskannya melakukan rihlah yang panjang dan penuh rintangan ke berbagai negeri. Perjalanan pertama Al-Bukhori ke luar Bukhoro adalah saat beliau diajak oleh ibu & sudaranya menunaikan haji pada tahun 210 H. Saat itu, usia beliau 16tahun dan telah menghafal kitab-kitab karangan Ibnu Mubarok & Waki, sekaligus menguasai tema-tema yang sering diperselisihkan oleh ahli mantik (logika). Setelah musim haji usai, beliau ditinggalkan oleh ibu & saudaranya. Beliau lebih memilih untuk menetap di Mekah, salah satu pusat keilmuan Islam tempat dimana para ulama berkumpul. Dari sinilah rihlahnya dimulai, sekitar seratus negeri beliau sambangi. dari Mekah, kemudian ke Madinah, Bashroh, Kuffah, Baghdad, Syam,Damaskus, Hims, Yaman , Mesir hingga Aljazair. Sedang rihlah  ke kota-kota di sekitar wilayah Khurasan seperti Muru, Balkh, Hirrah, Naisabur, Samarkand & Tashkent  telah beliau kelilingi sejak  lama sebelum pengembaraannya ke luar Bukhoro.

Beliau belajar kepada sekitar 1080 orang guru yang kesemuanya adalah para ulama & pakar hadits yang sebagian besarnya dari kalangan tabi’in dan tabi’ut tabi’in. Imam Bukhori juga selektif & berhati-hati ketika akan mengambil riwayat dari seorang guru yang beliau temui.  Beliau akan melihat perilaku keseharian gurunya tersebut. Sebab tanda seorang yang berilmu adalah mengamalkan ilmu yang ia punya & bersifat tawadhu’ (rendah hati). Salah satu selektifitas yang dilakukan oleh Imam Bukhori terhadap guru-gurunya adalah beliau berprinsip tidak akan pernah mengambil riwayat dari guru/syaikh yang tidak mengakui & menetapkan bahwa iman seorang manusia adalah yazid wa yanqush (naik turundalam sisi akidah mereka. Iman seseorang akan mengalami fluktuasi (naik turun) menurut pendapat jumhur ulama Ahlusunnah wal jama’ah. Berkebalikan dengan kalangan Khawarij yang menganggap bahwa orang yang melakukan dosa besar (murtakib al-kabiroh) telah kafir & keluar dari agama.

Imam Bukhori,dengan keluasan serat kecerdasannya menjadi sumber air & cahaya ilmu pengetahuan yang dicari & dibutuhkan khalayak manusia. Baik dari kalangan awam maupun ulama, terutama para pencari ilmu. Sehingga orang-orang pun berbondong-bondong untuk mengambil manfaat darinya, bahkan beberapa guru Al-Bukhori sendiri pun malah berguru kepadanya setelah melihat kualitas hadits serta kecerdasan beliau. Kedatangan para guru & ulama semasanya ke majlis sang imam menunjukkan bahwa masing-masing ulama tersebut senantiasa dalam keadaan muru’ah (saling rendah hati), tidak berhenti mencari ilmu walaupun orang menganggapnya sudah berilmu & banyak mengajar manusia lainnya. Sebab, diatas orang yang berilmu pasti ada orang yang lebih berilmu. Di atas semuanya itu masih ada Alloh SWT,  Sang Pemilik Ilmu. Dengan suasana keilmuan yang demikian, niscaya jalur periwayatan hadits-hadits  Nabi akan semakin terjaga, semakin luas tersebar & tentu akan terjadi penyaringan periwayatan hadits-hadits palsu / yang riwayatnya lemah.

Diantara murid-muridnya yang terkenal adalah : Shalih bin Muhammad/Juzrah, Muslim bin Hajjaj pemilik Shohih Muslim”, AbuBakar bin Ishak bin Khuzaimah An-Naisaburi penulis “Shohih Ibnu Khuzaimah”, Abu Abdurrahman An-Nasa’i pemilik “Sunan An-Nasai”, Abu Isa At-Tirmidzi  pengarang “Sunan At-Tirmidzi”, dll.

Banyak cerita berkaitan dengan Al-Bukhori sebagai guru yang baik  memberi nasihat kepada murid-muridnya. Salah satunya yang dikisahkan oleh Al-Walid bin Ibrahim Al-Bukhori, seorang murid Al-Bukhori yang menjadi qadhi (hakim) di wilayah Rayy (salah satu kota di Iran sekarang) ;

” Saat umurku menginjak dewasa,semangatku semakin menggelora dalam usaha mencari ilmu, termasuk ilmu hadits. Segera kulangkahkan kakiku menuju majelis Imam Al-Bukhori yang terkenal saat itu”. Setelah kunyatakan niatku, ia berkata :

“Wahai anakku, jangan engkau memasuki wilayah keilmuan (hadits ini) tanpa mengetahui garis-garis besar & batas-batasnya. Seseorang tidak akan menjadi seorang ahli hadits (muhadits) kecuali mengetahui dan menulis dalam lembaran yang dimilikinya delapan perkara yang terkumpul seperti beberapa baris syair dalam empat bait.”

“Wahai Imam, segera terangkan kepadaku apa sajakah perkara itu?”

“Engkau harus mengetahui hadits-hadits Rosululloh, para sahabat & tingkatannya, kehidupan para tabi’in, kehidupan riwayat sejarah hidup para ulama, sekaligus silsilah keluarga, nama-nama panggilan (kuniyah), serta tempat kelahiran mereka. Mengetahui masalah-masalah yang menjadi perselisihan (ikhtilaf) di antara mereka seperti hukum imam membacabasmalah ketika sholat jama’ah. Mengetahui kategori hadits-hadits yang tergolong mursal atau musnad. Membedakan mauquf dan maqtu’.Bagaimana masa muda perawi hadits tersebut. Bagaimana sikap mereka ketika diberi kekayaan lalu ketika dicabut oleh Alloh dan diganti dengan kemiskinan. Suasana kampung halaman (buldan) perawi tersebut. Bagaimana pararawi tersebut menulis dan mempunyai menuskrip dalam lembaran kulit, menulisnya di bebatuan atau dedaunan hingga ia memindahkan manuskrip tersebut ke dalam lembaran-lembaran kertas. Siapa saja rawi yang berada di atasnya atau darimana ia metriwayatkan. Juga siapa saja yang meriwayatkan darinya. Apakah ada dua nama yang sama dengannya dalam satu masa? Apakah ayahnya menulis dan meriwayatkan hadits? Apakah ia mmengambil riwayat serta mendapati manuskrip naskah dari ayahnya tersebut?”

“Juga lihat, apakah ketika ia menulis, meriwayatkan dan menyebarkan hadits Rosululloh SAW benar-benar diniatkan untuk mencari keridhoan Alloh? Terakhir, apakah ia mengamalkan hadits-hadits Rosululloh yang ia riwayatkan?”

“Namun, apa yang kuutarakan di atas belum terasa cukup. Engkau harus melengkapinya dengan hal-hal lainnya. Berusahalah mengais rizqi yang halal tentu dengan usahamu sendiri. Kau harus menguasai tulis-menulis dan Bahasa Arab dengan segala seluk-beluk ilmunya. Badanmu harus selalu sehat dengan cara kau harus selalu menjaganya, harus terus semangat, selalu punya keinginan dan cita-cita tinggi (mencari ilmu), dan juga harus kontinyu/terus-menerus. Itu semua tidak lain hidyah serta rahmat dari Alloh, maka selalu berdo’alah agar Dia selalu menganugerahkannya kepadamu.”

“Selanjutnya, ada 4 hal yang kau harus sabar di dalamnya,yaitu; keluarga, anak, harta, dan (rindu) kampung halaman. Juga 4 hal lain yang harus kau sabar dan jauhi,yaitu; mencela musuh, mencaci teman, mengejek dan mengatakan pada orang “kamu bodoh”, dan mendengki para ulama. Jika kau benar-benar mampu menahan terhadap beberapa hal di atas, niscaya engkau mendapati 4 kebaikan. Pertama, lezatnya qona’ah (merasa selalu berkecukupan). Kedua, tegaknya keyakinan dalam pribadimu. Ketiga, nikmatnya tholabul’ilmi (mecari ilmu). Keempat, kehidupan abadi (di akhirat) sesuai dengan firman Alloh SWT : “Barangsiapa yang mengerjakan amal sholih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baikdan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yanglebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (An-Nahl:79)

“Itulah nikmat Alloh yang diberikan kepadamu di dunia. Sedang di akhirat, engkau juga akan mendapatkan 4 hal. Pertama,syafaat dari baginda Rosul. Kedua,tempat berlindung yang langsung berada di bawah arsyi (singgasana-NYA). Ketiga, engkau akan meminum dari telaga Nabi. Keempat,  engkau akan berada dan bersama dengan para Nabi di tingkatan Surga yang paling tinggi. Demikian wahai anakku, telah kuajarkan beberapa hal yang akan sangat bermanfaat bagimu yang itupun kuperoleh dan kusimpulkan dari para guru terdahulu. Maka segeralah mengerjakannya, sedikit demi sedikit.”

Al-Walid segera berfikir terhadap beberapa hal yang disampaikan Sang Imam.Ia pun merasa berat dan mengeluh dengan banyaknya syarat tersebut. Ketika Al-Bukhori mengetahui keluhan muridnya, sang Imam pun berkata :

“Jika kamu merasa tidak akan mampu melaksanakan hal-hal tersebut, perdalam dan pelajarilah saja ilmu fiqih. Engkau bisa belajar otodidak di rumahmu tanpa membutuhkan rihlah (perjalanan) yang melelahkan dengan melintasi berbagai wilayah dan kota, juga menyebrangi laut. Sebab rihlah ke berbagai penjuru negeri dengan berbagai resiko yang dihadapinya adalah ciri hkhas para ulama hadits.”

Semenjak Imam Bukhori memulai rihlah pencarian haditsnya, ia telah terbiasa memberikan fatwa sebuah persoalan. Sepulangnya dari mengembara ilmu, beliau menetap di kampung halamannya untuk mengajar & memberi fatwa. Beliau tidak menyangka  di kampung halamnnya akan ada banyak orang yang menyambut kedatangannya dengan sangat hangat. Hinga amir  (penguasa) Bukhoro saat itu, Khalid bin Ahmad Al-Dhulali, mengutus seseorang yang membawa beberapa dinar uang untuk diberikan kepada Imam Al-Bukhori dengan maksud agar beliau mau mengajarkan kitab “Aj-Jami Ash-Shohih” dan “Tarikh Al-Kabir” di komplek istananya dan khusus mengajarkan kepada putra sang penguasa. Namun, sang Imam menolak dengan halus dan mengatakan pada Sang utusan ;

“Wahai utusan Amir,katakan pada tuanmu ; aku tidak akan menghinakan ilmu dan sekali-kali tidak akan membawanya ke depan pintu istana. Jika sultanmu menginginkan ilmu itu, maka suruhlah ia mendatangi masjid dimana aku mengajarkan pada khalayak umum atau suruhlah ia pergi ke rumahku. Jika Sultanmu merasa kecewa dengan jawabanku ini lalu melarangku memberikan ceramah dan mengadakan suatu majlis ilmu atau ia sengaja akan mengusirku,aku tidak berkeberatan. Semoga ini bisa menjadi alasanku di hadapan Alloh pada hari kiamat nanti,bahwa aku tidak akan pernah menyembunyikan dan pelit untk memberikan dan menyebarkan ilmu yang kumiliki”.

Hal ini membuktikan bahwa Al-Bukhori tidak pernah dekat dengan penguasa politik/kekuasaan. Ia tidak ingin merendahkan ilmu di depan penguasa untuk sekedar menerima beberapa keping dirham.

***

Kehidupan dunia bagi seorang muslim adalah perantara & bekal menuju kehidupan akhirat yang kekal dan abadi.  Hal ini bukan berarti seorang muslim akan meninggalkan segala macam bentuk kehidupan dunianya dengan hanya berkonsentrasi pada ibadah ritual saja. Maka, pada suatu hari Nabi SAW mengkritik salah seorang sahabatnya yang sepanjang harinya hanya beribadah & puasa saja. Nabi SAW mengajarkan,bahwa ia juga beristri, berpuasa tapi juga berbuka, berdagang di pasar,juga berperang. Meski Nabi SAW sudah dijamin Surga oleh Alloh SWT, namun itulah yang beliau contohkan.

Begitupun Al-Bukhori, disamping beribadah, mencari & mengajarkan ilmu, sebagaimana ayahnya, beliau juga berdagang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bentuk dagang yang beliau warisi dan teruskan dari ayahnya adalah sistem mudhorobah**. Dengan bisnis semacam ini, Al-Bukhori mempunyai banyak waktu untuk memenuhi dahaga ilmu & perjalannya mencari hadits Nabi SAW. Hasil bisnisnya tersebut beliau sedekahkan kepada fakir miskin, sesama penuntut ilmu, para guru yang membutuhkan atau membebaskan beberapa budak dari tuannya. Harta baginya adalah perantara menuju kebaikan.

Dengan kesibukan berdagang tersebut, terkadang beliau tidak hadir sehari dalam sebuah mejlis ilmu. Kadang beliau terlihat di Kufffah, lain hari beliau sudah di Basrah. Suatu sore lainnya beliau terlihat duduk di dekat mimbar dan makam Nabi SAW untuk menulis kumpulan haditsnya. Lusa berikutnya beliau sudah berada di Khurasan. Kehabisan bekal pun tidak menjadi masalah  hingga terkadang beliau memakan rumput-rumputan sebagaimana keadaan para Sahabat Nabi sewaktu perang Khabat***. Terkadang, beliau juga ikut bekerjakasar bersama budak-budak mengangkat pasir & batu bata. Dalam rihlah tholabul ilmi, beliau juga harus menyusuri padang pasir yang panas, menunggang kuda atau unta. Tidak peduli musim panas atau dingin.

Al-Bukhori juga seorang muslim yang mencintai kebersihan. Pernah suatu ketika beliau menemukan sebuah rambut janggut yang terlepas dari empunya ketika sedang berada di masjid menjalankan shalat. Segera beliau ambil rambut jenggot tersebut, lalu dikempit di lengannya. Setelah berada di luarmasjid, beliaupun membuangnya.

Kehati-hatiannya (wara’), membawanya agar janagn sampai dalam interaksi kesehariannya menyakiti orang lain. Beliau pernah berkata;

“Sejak aku mengetahui bahwa ghibah itu haram, aku tidak pernah sekalipun membicarakan orang lain”.

Salah satu keistimewaan Imam Al-Bukhori yang lain adalah sifatnya yang tidak mengenal fanatisme (ta’ashub) pada seseorang atau golongan tertentu. Hal ini terbukti ketika beliau menyusun kitab “Shohih Al-Bukhori”. Kehati-hatian serta ketelitian dalam menyaring hadits shohih dari sumbernya beliau lakukan setelah berdo’a memohon petunjuk kepada Alloh SWT dan menunaikan shalat sunnah 2 rokaat untuk setiap hadits yang dituliskan. Tidak sekalipun beliau dipengaruhi oleh bias (ta’ayus) terhadap pribadi/kedudukan seseorang.

Sikap lain yang menunjukkan kemuliaan akhlaknya adalah ketika beliau menghadapi orang-orang yang senatiasa membantahnya. Beliau senantiasa memberikan penjelasan yang lengkap. Jika orang yang dihadapinya masih membantah dan tidak membenarkan, beliau hanya berkata ; ” Hanya inilah yang aku ketahui dan aku tidak mengetahui hadits yang anda sebutkan”. Sesuai sunnah Rosululloh SAW, beliau juga membiasakan melatih dirinya untuk menguasai keahlian memanah, berburu, menunggang kuda dan berenang. Kebiasaan lain adalah ketika Bulan Ramadhan tiba. Di malam hari, beliau mengajak shabat-sahabatnya untuk shalat berjamaah di masjid dan mengkhatamkan Qur’an setiap 3 hari sekali. Beliau mengetahui bahwa Ramadhan adalah bulan dimana Alloh SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Rosulullloh SAW. Bulan ini juga menjadi ajang Malaikat Jibril untuk mengecek dan memperbaiki bacaan Qur’an Rosululloh SAW. Dua hal inilah yang beliau jadikan pemicu cinta dan rindunya pada Ramadhan dengan cara banyak membaca dan menelaah Al-Qur’an.

Beliau juga membiasakan diri shalat di waktu sahur, 13 rokaat termasuk witir didalamnya. Dari kebiasan-kebiasaan beliau, kita bisa menyimpulkan bahwa semua itu menunujkkan betapa hebatnya manajemen hidup Imam Bukhori.Semua kesibukan itu membuat Imam Bukhori harus bisa membagi waktunya sehari-hari. Bagaimana waktu sehari terbagi untuk ibadah, menerima tamu/murid yang datang, berbisnis, rihlah mencari ilmu, lalu mengurus dan memenuhi kebutuhan pribadinya. Manajemen seperti inilah yang selayaknya dijalani oleh setiap muslim/muslimah. Kunci kesuksesan para pendahulu kita terletak pada manejemen hidup ini. Bahkan, Alloh SWT banyak bersumpah dengan menggunakan “waktu” pada berbagai ayat dalam Al-Qur’an. Mudah-mudahan kita semua bisa mengambil hikmah…^_^

 

NB :

*Bukhoro sebagai satu kota besar di wilayah Khurasan menjadi tercatat & dikenal sejarah karena pernah menjadi ibu kota dari dinasti Samaniah (874-999M). Secara geografis terletak di dataran rendah Transoxania (Kaukasus / Asia Tengah sekarang) dan bisa dicapai dengan perjalanan selama  2 hari dari arah Sungai Jehun Irak. Kota-kota di sekelilingnya adalah Bikandi, Samarkand, Maru & Khawarizm. Kota/negeri tersebut terkenal sebagai negeri-negeri di belakang Sungai Eufrat (bilad ma wara’ An0Nahar). Sekarang Bukhoro termasuk salah satu kota penting di Republik Uzbekistan, Asia Tengah.

**Mudhorobah : Sistem bagi hasil yang jauh dari riba. Bentuknya adalah akad dari 2 orang atau lebih. Satu pihak sebagai pemilik modal & pihak lainnya akan menjalankan produksi modal tersebut. Keuntungan akan dibagi sesuai kesepakatan. Sedang apabila rugi, maka akan ditanggung bersama-sama.

***Khabat atau perang Saif Al-Bahr adalah perang dimana satu kompi pasukan utusan Rosululloh SAW ke daerah Pantai Bahrain yang dipimpin oleh Sahabat Imroh Abi Ubaidah bin Jarah yang karena begitu panjangnya perjalanan yang ditempuh, mereka pun kehabisan bekal & akhirnya terpaksa memakan dedaunan pohon yang tumbuh di sepanjang jalan. (Shohih Al-Bukhori no.4255 Bab Ghazwah Saif Al-Bahr)

Barelang Bridge…..

Ini nih salah satu icon kota Batam, namanya “Jembatan Barelang”. Barelang sendiri merupakan kepanjangan dari Batam-Rempang-Galang. So, jembatan ini ya fungsinya menyatukan ke-tiga tempat tersebut. Jembatan ini dibangun pada tahun 1992 atas prakarsa Bpk.B.J.Habibie. Totalnya ada 6 buah jembatan :

  1. Jembatan Tengku Fisabilillah (menghubungkan P.Batam dengan P.Tonton)
  2. Jembatan Narasinga (menghubungkan P.Tonton dengan P.Nipah)
  3. Jembatan Ali Haji (manghubungkan P.Nipah dengan Pulau Setokok)
  4. Jembatan Sultan Zainal Abidin(menghubungkan P.Setokok dengan P. Rempang)
  5. Jembatan Tuanku Tambusai (menghubungkan P.Rempang dengan P.Galang)
  6. Jembatan Raja Kecil (menghubungkan P.Galang dengan P.Galang Baru)
penampakan jembatan barelang

penampakan jembatan Tengku Fisabilillah (sekarang lebih dikenal dengan nama : Jembatan 1  Barelang)

Menurut berbagai sumber, kalau ke-6 jembatan tersebut dihubungkan, panjangnya mencapai 2km. Saya sendiri belum pernah menjelajah sampai ke jembatan enam. Baru sampai ke jembatan empat saja. Nah, berikut ini foto-foto yang diambil beberapa bulan lalu:

jam 6 pagi...jalanan masih sepi...^_^

jam 6 pagi…
jalanan masih sepi…^_^

Dari sini kita bisa menikmati pemandangan P.Batam yang unik, laut biru, & pulau-pulau   yang masih asri. MasyaAlloh,... indahnya...^_^

Dari sini kita bisa menikmati pemandangan P.Batam yang unik, laut biru & pulau-pulau yang masih asri. MasyaAlloh,… indahnya…^_^

Berpose di Plaza Barelang Bridge yang baru diresmikan tanggal 16 Desmber kemarin oleh Walikota Batam

Berpose di Plaza Barelang Bridge yang baru diresmikan tanggal 16 Desember kemarin oleh Walikota Batam

Oya, baru-baru ini Walikota Batam meresmikan Plaza Barelang Bridge, lokasinya sebelum jembatan 1 Barelang. Disini disediakan beberapa fasilitas seperti : mushola, toilet, plaza terbuka, foto corner, panggung “Dendang Melayu” lengkap dengan lapangan luas untuk olah raga, konser musik atau pertunjukan-pertunjukan lainnya. (Cocok juga dipakai untuk tempat tabligh akbar/aksi-aksi sosial).

Sekedar sharing, menikmati pemandangan dari Jembatan Barelang ini sebaiknya dilakukan di pagi hari. Udaranya bersih, kendaraan juga masih jarang, sepi pengunjung, apalagi kalau berkesempatan melihat sunrise dari ufuk timur, MasyaAlloh…. indahnya…^_^ Sayangnya di sore/malam hari, pemandangan di jembatan ini jadi ngga asyik lagi. Meski kita bisa menunggu sunset, menikmati jagung bakar, gonggong atau penganan lainnya, pemandanagan alamnya jadi ngga alami lagi. Terlebih di malam Ahad, banyak pasangan muda-mudi yang mojok disana sini. So,… mendingan pagi-pagi aja dech berkunjungnya…….^_^

Firman Alloh SW…

Firman Alloh SWT :
“Dan Dia-lah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang manghijau itu butir yang banyak, dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu adatanda-tanda (kekuasaan Alloh) bagi orang-orang beriman.”
(QS. Al-An’am : 99)

“Serpihan – Serpihan itu,,,,,,,”

Menyusun serpihan-serpihan yang terserak…..

Sekarang,…. semuanya hampir jelas sudah

Langit biru cerah itu masih langit yang sama….

Rembulan itu masih rembulan yang sama….

Bintang gemintang itu masih berdiri kokoh di tempat yang sama

Mentari itu masih mentari yang sama….

Ah, arak-arakan awan itu, sungguh membuatku melayang,… menerawang, menembus batas…

Mereka yang menemaniku hingga kini……

Bintang gemintang itu,,,,, yang mengikuti jejak perjalananku, jejak petualanganku…

Hujan deras yang membuatku kuyup,… juga teman yang setia,….

Kicauan burung-burung, nyanyian embun,… juga menjadi saksi…

Sungguh,…. betapa hidup mengajariku banyak hal…

Ketika aku berlari mengejar mimpi….

Terjatuh….

Bangkit….

Terjatuh….

Bangkit….

Terjatuh…

dan aku bangkit lagi…..

Sungguh,…. betapa hidup mengajiriku banyak hal…

tentang cinta… perjuangan.. dan pengorbanan

Sungguh,… betapa hidup mengajiriku banyak hal….

tentang kesetiaan, ketulusan, dan persaudaraan,….

Sungguh, betapa hidup mengajariku banyak hal,…

tentang rindu….tentang asa, tentang cerita….

Sungguh, betapa hidup mengajiriku banyak hal….

meski terkadang harus mengalah,..

meski terkadang harus berurai tangis…

Namun, kekalahan itulah yang membuat aku bangkit…

Tangis itulah yang membuat aku mengerti….

Serpihan-serpihan itu……

membuat aku terbangun….

membuat aku tersadar,…

bahwa,,,, tak ada satu pun yang kebetulan….

semua dalam rencana-NYA, semua dalam kuasa-NYA..

Pedih itu kini berbuah manis….

Tangis itu kini berbuah tawa…

Derita itu kini berbuah ceria…..

Serpihan-serpihan itu…..

Sekarang….

Semuanya hampir jelas sudah

Semuanya hampir jelas sudah

Alhamdulillah……………..

Alhamdulillah……

Segala puji bagi Engkau Yaa Robb…..

Segala puji bagi Engkau pemilik alam semesta,… Robb Langit & Bumi…..

Yang Maha Memelihara,…Maha memberi rizqi,… Maha Agung, Maha Pengasih,.. Penyayang….:)

Terimakasih atas udara yang kuhirup dengan bebas semenjak lahir hingga kini……

Terimakasih untuk 2 bola mata yang Engkau titipkan  hingga kini…..

Terimakasih untuk 2 telinga yang Engkau ciptakan melekat dalam jasadku  hingga kini….

Terimakasih untuk nikmat lisan yang Engkau amanahkan hingga kini…..

Terimakasih untuk kedua tangan dengan jari-jarinya yang lengkap

Terimakasih untuk kedua kaki dengan jari-jarinya yang lengkap, dengan tulangnya yang kokoh, dengan kuku-kukunya yang sempurna…

Terimakasih untuk setiap detak jantung yang Engkau berikan hingga kini……

Terimakasih untuk setiap hembusan nafas… untuk setiap denyut nadi,… untuk setiap detik yang Engkau beri hingga kini….

Terimakasih untuk ni’mat akal hingga aku bisa berfikir

Terimakasih untuk  ni’mat Qolbu hingga aku bisa merasa….

Terimakasih untuk kedua orangtuaku yang sehat…..

Untuk adik-adik yang tangguh….

Untuk sahabat-sahabat yang saling mendo’akan….

Untuk semua yang telah mengispirasi kehidupanku…..

Terimakasih Yaa Robb….

Sungguh,… alangkah banyak ni’mat yang telah Engkau beri dalam kehidupan hamba….

alangkah banyaknya hingga hamba tak  kuasa menghitungnya……

Terimakasih Yaa Robb……

Segala puji hanya bagi Engkau……

Segala puji hanya bagi Engkau……

“Tips & Trik Menghafal Al-Qur’an” @ Kajian sore X-Team

kajian sore publish - Copy Hari/Tanggal  : Selasa, 27 Muharrrom 1434/11 Desember  2012

Nara Sumber   : Ust.Suntama Putra

Tempat           :  Aula P.21

Ketika kita menghafal Al-Qur’an, sejatinya kita juga sedang mempersiapkan mahkota kemuliaan untuk kedua orang tua kita di Surga kelak. Bukankah ini juga termasuk “Birul Walidain?”. Subhanalloh, betapa mulianya para penghafal Qur’an. Bukan itu saja, banyak sekali keutamaan untuk para penghafal Qur’an, salah satunya seperti hadits berikut ini :

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

“Bacalah Alquran, karena ia akan datang pada hari kiamat memberikan syafaat kepada sahabatya.” (HR. Muslim).

Lantas, apakah sekarang kita sudah menjadi “Sahabat Al-Qur’an”  atau baru sekedar berteman saja?? Dalam Bahasa Arab, ada beberapa padanan kata yang berarti teman/sahabat. Padanan kata tersebut adalah :    صديق atau زمل (yang berarti teman, teman biasa), berbeda dengan صحب  (bentuk mufrod dari أَصْحَابِ  dalam hadits di atas yang berarti sahabat yang lebih dari sekedar teman, ia membersamai kita dalam suka maupun  duka). Maka, beruntunglah bagi para “Sahabat Al-Qur’an” , yaitu bagi mereka yang mereka yang berhasil melewati 4 tahap berinteraksi dengan Al-Qur’an ;

  1. Membacanya
  2. Memahaminya
  3. Menghafalnya
  4. Mengamalkannya

*****

Menghafal Al-Qur’an membutuhkan ijtihad yang SUPER….

TIPS :

  1. Niat/ Azzam yang kuat. Sebagaimana hadits yang begitu mahsyur ;             إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى . فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ .                                                                                                                                                                                                                                                                                                             “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan. (HR.Bukhori-Muslim).  
  2. Aplikasi
  3. ISTIQOMAH ; Istiqomah adalah kesabaran luar biasa yang mudah diucapkan, namun sulit untuk diamalkan. Istiqomah bukan berarti stagnan mengamalkan yang itu-itu saja. Istiqomah itu dinamis, artinya kita senantiasa berikhtiar untuk terus menerus menjadi lebih baik dari waktu ke waktu. Hari ini harus lebih baik dari hari kemarin. Hari esok harus lebih baik dari hari ini. Begitupun hafalan kita, kalau kita sudah mampu istiqomah menghafal 5 ayat per hari, maka alangkah lebih baik jika kita berusaha menambahnya menjadi 10 ayat per hari, dst.

******

Berikut ini TRIK ala nara sumber yang merupakan pengalaman pribadi beliau hingga Alhamdulillah, dalam waktu 1 tahun 8 bulan, beliau berhasil mengkhatamkan hafalan 30 juz Al-Qur’an :

  1. Dibaca berulang kali, Biasakan lidah kita untuk berinteraksi/mengenal ayat tersebut. Kalau sudah terbiasa membaca, menghafal insyaAlloh menjadi sangat mudah. Bacalah minimal 10x sebelum kita beranjak ke ayat berikutnya.
  2. Mengingat letak ayat
  3. Memahami makna / terjemahnya

Banyak  metode yang digunakan dalam menghafal Qur’an. Ada yang dengan cara membacanya berulang-ulang, menuliskan kemudian baru dihafal, mencari arti/terjemah ayat, dsb. Namun, perlu difahami, bahwa metode/cara menghafal setiap individu itu berbeda.  Tidak ada yang perlu diperdebatkan, metode hanyalah faktor eksternal yang masing-masingnya punya kelebihan & kekurangan. Inilah asyiknya menghafal Al-Qur’an. Yang paling penting, carilah yang benar-benar pas untuk kita amalkan karena faktor paling utama adalah faktor internalnya, yaitu niat kita, ‘azzam kita, serta keistiqomahan kita.

Wallohu ‘alam bishowab..

NB :

  • Bagi para akhwat yang sedang udzur, jangan khawatir, udzur bukan berarti putus interaksi dengan Al-Qur’an. Masih diperkenankan untuk murojaah hafalan, membaca tafsir, atau mendengar murotal….^_^
  • Selamat Menghafal…..^_^

Rendezvous…

Biasanya kalo lagi susah tidur, sambil merebahkan badan, saya baca buku-buku ringan. Trik ini lumayan ampuh untuk mengundang rasa kantuk, baca 5 sampe 10 menit tau-tau udah terlelap.. Seperti beberapa hari kemarin, pulang aktivitas, waktunya untuk memberi hak tubuh beristirahat, saya pancing rasa kantuk dengan membaca Rendezvous-nya Bang Melvi Yendra…Ternyata… oups…! Saya salah pilih buku pemirsa..!! Bukannya mengantuk, saya malah semakin penasaran pengen tau bagaimana ending ceritanya..!!So,… buku setebal 258 halaman yang terdiri dari 43 bagian ini akhirnya saya lahap dalam sekali waktu saja…

Sebelum terbit di tahun 2007, Rendezvous ini pernah dimuat di cerbung-nya Majalah Annida..  Sebuah novel yang menceritakan tokoh utama bernama Aulia Putri, seorang mahasisiwi semester 6 jurusan teknik mesin di salah satu universitas ternama di Padang. Selain berjilbab, ia juga seorang aktivis LSM yang giat mengurusi nasib para pengungsi korban kerusuhan.  Maka, ia terbiasa dengan demonstrasi-demonstrasi di jalanan. Terkadang orasinya terlampau pedas mengkritik para pejabat atau pengusaha yang bertindak sewenang-wenang…

Di tempat lain, Seorang pengusaha kaya raya bernama Akmal Rasyid meninggal dunia. Ia memiliki putra tunggal bernama Muhammad Hanif. Hanif dikagetkan oleh surat wasiat sang ayah yang menyuruhnya mencari 2 orang wanita & menyerahkan setengah warisannya kepada mereka berdua.

Ibu kandung Hanif meninggal sesaat setelah ia dilahirkan. Ia tidak pernah tahu kalau ternyata ayahnya telah menikah lagi dan memiliki seorang putri. Kemudian Hanif menyewa Anton Wijaya, seorang detektif swasta untuk mencari adik & ibu tirinya itu. Penyelidikan Anton berujung pada seorang gadis bernama Aulia Putri yang tinggal bersama ibunya, Listini di Padang.

Misteri demi misteri pun bermunculan.. Tentang tertembak matinya sahabat terdekat Aulia Putri bernama Silvia Hanee yang tercatat sebagai seorang mahasiswi kedokteran. Penculikan& penyekapan Putri di sebuah Villa di luar  kota Bukit Tinggi, yang  kemudian kasusnya ditangani Adam (seorang Kapten Polisi di wilayah Sumatera barat). Pembunuhan berantai, hingga munculnya pria tampan misterius yang juga ikut disekap bersama-sama Putri.

Pada saat yang sama, Jimmy Fidzgerald kakak kandung Silvia Hanee yang berprofesi sebagai seorang pengacara bertekad mencari pembunuh adiknya. Dalam sebuah kesempatan, Anton, Kapten Adam dan Jimmy Fidzgerald bertemu. Mereka bertiga berusaha memecahkan kasus itu..

Di bagian awal, alur novel ini sulit ditebak hingga membuat kita penasaran membuka lembar demi lembar halaman berikutnya.  Namun, hampir di bagian akhir, misteri-misteri itupun satu demi satu terkuak . Dan seperti dugaan saya,.. Novel ini pun ditutup dengan ending yang manis… .

SAM_0851 - Copy